Inilah Asumsi yang Salah Tentang Kanker Serviks

Penyakit kanker serviks adalah salah satu jenis penyakit yang menjadi momok bagi para wanita. Kanker ini muncul pada leher rahim wanita. Leher rahim tersebut merupakan pintu masuk menuju rahim dari vagina. Dan wanita yang sering melakukan aktivitas seksual cenderung lebih beresiko mengalami kanker serviks.

Di awal mungkin seseorang tidak terlalu menyadari bahwa dirinya mengalami kanker serviks. Hal ini karena kanker jenis ini tidak mempunyai gejala yang signifikan. Namun tanda yang paling umum ialah munculnya pendarahan pada organ intim wanita seusai melakukan hubungan seksual, selepas menopause maupun di luar periode menstruasi.

Seiring tingginya kasus kanker serviks, di sisi lain juga muncul persepsi dan asumsi yang salah mengenai kanker serviks. Apa saja asumsi atau mitos yang salah tentang kanker serviks tersebut? Berikut ulasannya.

Kanker serviks berujung kematian

Selama ini setiap kali ada orang yang menyebut penyakit kanker pasti muncul anggapan bahwa usia penderita kanker tersebut tidak lagi panjang. Begitu pula dengan penderita kanker serviks ini, mereka dinilai tidak lagi memiliki harapan hidup. Padahal faktanya tidak demikian, yang mana penderita kanker serviks yang didiagnosa sedini mungkin justru mempunyai harapan hidup sampai 92%.

Jadi seseorang yang melakukan skrining rutin lebih memiliki harapan hidup yang besar karena dapat mendeteksi gejala awal kanker serviks. Sayangnya tidak semua wanita rutin melakukan skrining sehingga kanker terlanjur menyebar dan akan sulit diatasi.

Daerah V tidak bermasalah, jadi aman dari kanker

Sudah disinggung sebelumnya bahwa kanker serviks ini tidak mempunyai gejala yang signifikan sehingga penderita tidak menyadari bahwa dirinya mengalami kanker serviks. Inilah pentingnya skrining, bahkan sekalipun Anda tidak merasakan gejala tertentu pada daerah V.

Perlu Anda ketahui bahwa kanker serviks ini dapat dicegah dengan melakukan 2 cara tepat. Pertama upaya pencegahan primer yakni dengan vaksin HPV dan yang kedua adalah pencegahan sekunder, yakni dengan skrining secara rutin.

Riwayat keturunan

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa jenis penyakit kanker yang dialami seseorang karena disebabkan faktor keturunan. Misalnya saja kanker ovarium dan kanker payudara. Meskipun begitu, jangan lantas menyamaratakan semua jenis kanker disebabkan faktor keturunan.

Kanker serviks ini berbeda, munculnya penyakit ini disebabkan oleh infeksi HPV. Inilah mengapa vaksinasi HPV harus dilakukan guna mencegah infeksi itu sendiri. Sehingga salah besar apabila ada yang beranggapan bahwa kanker serviks ini dipengaruhi faktor keturunan.

Penderita kanker serviks tidak akan mempunyai keturunan

Tidak sedikit anggapan bahwa wanita yang menderita kanker serviks ini nantinya tidak bisa memiliki anak. Benar, bagi penderita kanker serviks ini akan dilakukan tindakan histerektomi atau pengangkatan rahim, terapi radiasi hingga kemoterapi. Akan tetapi, jika kanker serviks tersebut bisa dideteksi sejak dini, maka pasien dengan kanker serviks ini masih mempunyai harapan untuk memiliki keturunan.

Tidak ada upaya pencegahan kanker serviks

Minimnya informasi tentang kesehatan yang diterima masyarakat pada akhirnya juga memunculkan mitos dimana orang beranggapan bahwa kanker serviks tidak bisa dicegah. Padahal munculnya kanker dalam tubuh umumnya akan membutuhkan waktu yang lama. Jadi seseorang tidak serta merta mengalami kanker secara instan.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, kanker serviks ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin HPV dan skrining. Lebih dari itu Anda juga harus menerapkan pola hidup yang sehat serta tidak melakukan aktivitas seksual dengan berganti-ganti pasangan.

Demikianlah beberapa asumsi salah seputar kanker serviks yang selama ini bergentayangan di masyarakat. Munculnya kekeliruan asumsi ini tentu menjadi momok yang menyeramkan bagi kaum hawa. Untuk itu penting dilakukan sosialisasi lebih terkait kanker serviks itu sendiri.

Semoga informasi di atas bermanfaat ya.

Leave a Reply